Membangun Sekolah Entrepreneur dengan Pilar 4 Ideologi

Pakar Entrepreneurship

Pakar Entrepreneurship

Pagi hari ini saya mendapatkan kabar baik. Sebuah kabar yang memberikan kepuasan tersendiri bagi para coach ketika mendengar coachee-nya berhasil meraih prestasi. Sebuah kebahagian yang tak ternilai. Kabar apakah gerangan?

Salah satu binaan GIMB Entrepreneur School, Evi Saeful Hayati, pemilik usaha tas handmade bergaya anak muda berlabel Wondrouss berhasil meraih Juara 1 Wirausaha Muda Berprestasi Tingkat Jawa Barat dari Kemenpora dan berhak menjadi wakil Jawa Barat untuk berkompetisi di tingkat nasional.

Dara muda Bandung ini menciptakan tas berkarakter unik, simpel, dan tahan air yang kini digandrungi anak-anak remaja wanita. Meski baru dirintis setahun yang lalu, bisnis fashionnya ini sekarang mampu meraup omset hingga ratusan juta rupiah. Selamat Wondrouss!

Tahun lalu, seniornya di GIMB, Dea Ariyanti, pemilik usaha busana rajut muslimah Supernova House, berhasil meraih Juara 1 Wirausaha Muda Berprestasi Tingkat Nasional. Dea berhasil memberdayakan puluhan pengrajin rajut di kawasan Binong Jati, Bandung.

Dea juga mampu mengubah persepsi orang tentang rajut yang awalnya identik dengan orang tua, sekarang menjadi gaya anak muda yang bikin pemakainya merasa lebih keren dari sebelumnya. Selamat Supernova House!

Satu hal lagi yang cukup membanggakan adalah keduanya sama-sama srikandi tangguh yang berusia di bawah 24 tahun!

Selain mereka, telah pula berjajar dalam antrean entrepreneur muda wanita yang punya potensi besar meraih kesuksesan.

Oya saya cerita dulu sedikit tentang GIMB.

GIMB Entrepreneur School adalah sebuah lembaga pembinaan dan peningkatan kuantitas dan kualitas entrepreneur muda berbasis knowledge di Bandung.

Berawal dari sebuah gerakan entrepreneur muda di Bandung tahun 2012, kini GIMB (Gerakan Indonesia Muda Berbisnis) bersama 2000 lebih member binaan, bergerak terus menjadi lembaga dengan misi menciptakan dan meningkatkan entrepreneur muda Indonesia di bawah payung GIMB Foundation melalui berbagai program.

Ternyata ide-ide inovasi para GIMBers (sebutan untuk member/siswa/alumni GIMB) di era digital saat ini telah melahirkan berbagai prestasi yang memberi kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai salah satu pendiri GIMB.

Nah, apa kira-kira resep sukses mereka hingga mampu berprestasi dan menembus omzet bisnis hingga ratusan juta bahkan miliran per bulan?

Tentunya, banyak faktor penentu keberhasilan yang mengantarkan mereka pada level atas.

Namun saya mencatat ada 4 ideologi atau 4 prinsip entrepreneurship yang selalu mereka pegang dalam menjalankan bisnis mereka.

Prinsip itu juga yang selalu ditanamkan dalam kelas GES (GIMB Entrepreneur School). Sebuah prinsip sederhana namun sangat powerful.

4 ideologi ini diadopsi dari 4 simbol matematika sederhana yang menjadi dasar perhitungan dalam keseharian, yaitu bagi (:), kurang (-), tambah (+), dan kali (x).

Apa hubungannya simbol-simbol itu dengan bisnis dan prinsip entrepreneur? Jika diformulasikan dalam sebuah kalimat, bisa berbunyi seperti ini : “Seorang entrepreneur adalah orang yang mau berbagi (give), berkurang (eliminate), bertambah (value), berkali (multiply).

1. Mau berbagi (Give). Keberhasilan sejatinya diawali dari niat yang tulus untuk memberi manfaat pada banyak orang (mental abundance). “Makin banyak memberi, makin banyak menerima” telah menjadi hukum yang tak terbantahkan.

Orang-orang besar dan sukses (seperti yang fotonya tercantum dalam ilustrasi gambar artikel ini) atau para pemimpin bisnis inspiratif yang berpengaruh di dunia, mereka menerapkan hukum ini.

2. Mau berkurang (Eliminate). Entrepreneur hanya akan bisa sukses jika mampu mengeliminasi sikap kerja yang menghambat kemajuan seperti : NATO (no action talk only), pesimis, suka galau, atau mudah menyerah ditengah perjalanan panjang wujudkan impian. Sikap negatif ini seperti kudu di-eliminasi. Atau dibungkus dan dibuang ke tong sampah.

3. Mau bertambah (Value). Dengan kreativitas dan inovasinya, mereka mampu memberikan NILAI TAMBAH : mengubah sampah menjadi emas. Para entrepreneur mampu memberikan nilai tambah dengan memberikan dan menambah benefit dari produk dan layanannya, memiliki pembeda dan unggul dalam persaingan.

4. Mau berkali (Multiply). Entrepreneur juga punya kemampuan untuk memberikan faktor kali pada setiap produknya. Mereka mampu menjadikan pelanggannya puas dan datang lagi, dan juga terus bisa menumbuhkan pembeli. Mereka juga mampu melipatgandakan income dengan membuat sistem usaha, atau membuka cabang di mana-mana.

FAKTOR KALI. Inilah salah satu rumus ajaib keberlimpahan rezeki.

Bagi seorang entrepreneur, selalu bergerak dan terus memperbaharui strategi melalui berbagai inovasi adalah sebuah keniscayaan. Jika tidak, maka bersiaplah menghadapi jurang kejatuhan, bukan lagi stagnasi zona nyaman, karena kompetitor terus berlari jauh ke depan.

Apalagai di era digital seperti saat ini yang mengutamakan kreativitas dan inovasi. Tak heran jika sekarang bisa kita lihat “fenomena ajaib” dan kehebohan Uber, Gojek, dan Blujek yang disebut sebagai Sudden Shift (tiba-tiba berpindah). Rhenald Kasali menyebutnya sebagai 3S : Sudden Shift, Speed, Surprise!

Saya optimis, ke depan akan semakin banyak anak-anak negeri yang menjadi entrepreneur muda kreatif dan inovatif, sukses, melahirkan ide-ide brilian, mampu memberikan solusi, dan memberi manfaat bagi orang banyak.

Dan itu adalah Anda.

Agus Santoso – Founder GIMB Entrepreneur School Bandung

Tulisan ini dimuat juga di blog yang sangat inspiring dan legendaris milik Yodhia Antariksa di SINI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s