jump to navigation

Sukses

Halaman ini memuat artikel tentang profil para pengusaha sukses, komplit beserta perjuangan, suka duka, trik & tips mereka : Mudah-mudahan dapat memberikan inspirasi…

 

Kisah Sukses Pengusaha UKM, Nur Dahyar
Dari Karyawan Menjadi Rekanan Toyota

Siapa yang membayangkan orang yang dulunya bekerja di bagian produksi pabrik Toyota Astra Motor (TAM) bisa mengubah nasibnya menjadi rekanan yang memasok komponen pada perusahaan otomotif terbesar di Indonesia tersebut?

Mungkin ada, tidak tidak terlalu banyak. Dan salah satunya adalah Nur Dahyar. Nur—demikian ia biasa dipanggil-membuka usaha pallet setelah “mencuri” ilmu di TAM selama 9 tahun. Saat ini pallet buatan perusahaannya tidak saja digunakan memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga diekspor ke luar negeri. “Sejak awal saya memang mempunyai rencana menjadi pengusaha,” ujarnya.
Pada saat bekerja di Toyota tahun 1978 ia hanya berbekal ijazah SLTP. Namun keinginannya menjadi seorang pengusaha tidak pernah mati, sembari bekerja di Toyota pada malam harinya ia bersekolah SMA hingga lulus Akademi D3 komputer. Ketika bekerja di Toyota, ia pun bertekat menguasai semua bidang sehingga ia minta kepada atasannya supaya di-rolling dari satu bidang ke bidang lain.
Maka sejumlah bidang di industri otomotif ini sudah ia jalani. Mulai dari bidang pengelasan, press, pengepakan, pergudangan dan lainnya. Setelah ia memperoleh cukup ilmu akhirnya ia keluar untuk mendirikan perusahaan kecil-kecilan.
Secara kebetulan ketika di Toyota ia kenal dengan Setiadi, seorang teknisi mesin yang bekerja di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Hubungan pertemanan ini berlanjut menjadi hubungan bisnis. Nur Dahyar lalu mendirikan perusahaan yang diberi nama PT Nuansa Raya Dinamika (NRD) tahun 1997.
Modal awal pengembangan usaha NRD berasal dari pinjaman BNI sebesar Rp 50 juta. Pertama kali memperoleh order dari Pelindo lewat jasa temannya tersebut. Proyek yang ditanganinya adalah pembuatan 9 pemancar lampu (tower) senilai Rp 135 juta yang dilaksanakan dalam beberapa periode.
“Pada bulan pertama NRD menyelesaikan order sebesar Rp 15 juta tetapi biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp 25 juta,” ujarnya. Hal ini wajar mengingat NRD harus menginvestasikan mesin dan peralatan lain. Setelah memiliki prospek yang baik koleganya tersebut mengajukan pensiun dini agar bisa fokus dalam mengembangkan perusahaan tersebut. Pada mulanya 100 persen saham dimiliki Nur Dahyar tetapi setelah Setiadi bergabung komposisi kepemilikan saham fity-fifty.
“Kami membina hubungan berdasarkan prinsip saling percaya, walaupun sering kali beda pendapat tetapi sampai sekarang masih bisa bertahan,” kata Setiadi. Jika Dahyar lebih menguasai proses produksi maka Setiadi menangani yang berkaitan masalah keuangan. Pembagian tugas yang jelas menyebabkan masing-masing orang tahu apa yang harus dilakukan dan bidang apa yang harus dikerjakan.

Beralih ke Besi/Baja
Semula NRD memproduksi pallet yang terbuat dari kayu tetapi mulai tahun 2001 beralih dengan bahan baku dari besi/baja. Sejak tahun 2002 pallet buatan NRD semua berasal dai besi/baja. Hal ini disebabkan negara seperti Malaysia dan Australia sudah tidak mau menerima pallet yang terbuat dari kayu karena menciptakan masalah lingkungan.
Saat ini produk yang dihasilkan NRD tidak saja pallet baja tetapi juga peralatan konstruksi baja dan mesin-mesin sederhana. NRD telah berkembang menjadi tiga pabrik kecil yang menempati wilayah seluas 2560 meter persegi di daerah Semper. 55 persen produksi NRD untuk memasok kebutuhan Toyota sedangkan 45 persen kepada pelanggan lain. Tercatat beberapa perusahaan seperti PT Maersk Line, SCI, American Line, Mulia Keramik mengguanakan produk NRD.
Saat ini beberapa bank telah menyalurkan kredit pada UKM ini yakni Bank Niaga, Bank Permata dan Citibank. “Sekarang kredit yang bisa dikucurkan bisa mencapai Rp 1 miliar per bulan seiring dengan perkembangan perusahaan,” kata Setiadi. Ia merasa bersyukur karena omzet perusahaan yang semula hanya dibawah Rp 100 juta sekarang sudah mencapai Rp 14 miliar.
Setiadi memperkirakan omset perusahaan di akhir tahun bisa mencapai Rp 20 miliar. Meskipun masih mengandalkan produksi pallet baja tetapi produk-produk lain non-pallet akan ditingkatkan. Pada 2005-2007, NRD ingin masuk pada pengembangan produk komponen mesin. Rencananya 2007-2010 investasi peralatan dan mesin-mesin sudah bisa dilakukan dan akhir tahun 2010 sudah bisa berproduksi.
Khusus bahan baku perusahaannya dipasok oleh PT Krakatau Steel melalui 5 distributor dan pipa dari perusahaan Bakrie. Sejauh ini pasokan lancar sehingga produksi tidak terganggu. Namun penguatan dolar terhadap rupiah akhir-akhir ini menyebabkan kekhawatiran karena dampaknya sangat buruk bagi usahanya.
Sementara untuk jumlah karyawan terus meningkat dari tahun 1997 yang hanya Nur Dahyar dengan anggota keluarga saja. Tahun 1998 berjumlah 7 orang sekarang sudah berkembang menjadi 122 orang. Kebanyakan atau sekitar 78 orang merupakan lulusan smu, 3 dari akedemi, 6 orang univeritas dan sisanya pendidikan SD dan SMP.
Jepang Ingin Masuk
Setelah melihat prospek bisnis yang baik maka ancaman terbesar yang dihadapi perusahaan adalah rencana perusahaan Jepang melakukan investasi di sektor ini. Hal inilah yang dikhawatirkan karena bisa mengancam eksistensi NRD. Namun kebijakan Toyota yang tetap ingin mempertahankan partner lokal menyebabkan mereka belum bisa masuk.
Tetapi indikasi perusahaan Jepang ingin masuk ke sektor ini sudah ada. “Kami meminta pemerintah memperhatikan ini sebab secara modal dan teknologi mereka pasti tidak kalah,” kata Dahyar.
Sebelumnya tahun 2004 NRD juga terancam setelah produk-produk bajakan dengan harga murah dari Cina diselundupkan melalui berbagai pelabuhan. “Modusnya mereka bekerja sama dengan beberapa orang aparat bea cukai untuk meloloskannya,” ujarnya.

Sinar Harapan 2003

Reza Malik; Obsesi Usaha Roti Sang Santri

Santri jebolan pondok pesantren ini berhasil mengembangkan usaha roti hingga produksinya bisa meludeskan 150 bal tepung terigu sehari. Dia masih menyimpan sebuah obsesi besar.

Untuk ukuran pengusaha roti skala kecil menengah (UKM), prestasi Reza Malik memang luar biasa. Lihat saja volume produksinya, yang menghabiskan tepung terigu sampai 150 bal sehari. Dengan merek Riz-Qy, roti produk Reza dipasarkan melalui 14 unit armada mobil, 50 unit gerobak becak, dan 50 orang pedagang pikulan. Di samping itu, Reza masih memiliki tiga buah toko roti.

Dilihat dari sarana pemasarannya, jelas, Reza membidik konsumen kelas bawah, menengah sampai atas sekaligus. “Khusus yang pikulan, saya anggap perlu agar bisa menyasar daerah pemukiman yang sulit dijangkau kendaraan,” ujar Reza, “Sedangkan yang dijajakan di toko, adalah roti kualitas bakery, untuk kalangan menengah ke atas.” Pria berusia 45 tahun itu, berniat mengembangkan toko rotinya, dengan sistem waralaba.

Reza Malik memulai usaha roti pada 1982, dengan modal Rp 10 juta. “Ketika itu, terus terang saja, pengetahuan saya tentang roti, nol,” akunya. Usaha Reza mulai berkembang, ketika —pada 1984— mengikuti pelatihan pembuatan roti di baking school bogasari selama 2 minggu. “Dari situ, saya bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan membuat roti yang baik,” ujarnya.

Agar selalu bisa mengikuti selera konsumen, Reza melakukan observasi secara periodik. “Ya, observasinya sederhana saja. Yang penting, kita tahu apa maunya konsumen,” jelasnya, “Intinya, kita harus tanggap dan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan selera konsumen.”

Dalam rangka itulah, Reza tak pernah bosan mencari pengetahuan baru soal pembuatan roti. Misalnya, dia tak sungkan-sungkan mendatangi karyawan bahkan pemilik bakery terkemuka di Jakarta, untuk mengintip rahasia pembuatan roti mereka. Buku-buku tentang roti pun, menjadi objek pemburuannya.

Kerja keras Reza memang tidak sia-sia. Usaha rotinya terus mengalami peningkatan. Krisis ekonomi, memang sempat menggoyahkan bisnis roti Reza. “Tapi, dengan sekuat tenaga, saya upayakan jangan sampai terjadi penurunan drastis. Paling tidak, agar tidak terjadi PHK,” ucapnya, “Kalau perlu, saya mengambil kredit bank, meskipun bunganya tinggi.”

Reza, seorang santri jebolan Pesantren Gontor, Jawa Timur tahun 1978, memang memiliki jiwa wirausaha yang luar biasa. Di samping roti, dia juga berhasil mengembangkan sebuah toko grosir. Toko bernama “Haji Malik” yang di daerah Jatinegara, Jakarta Timur, sudah sangat terkenal itu, juga berperan sebagai distributor tepung terigu, dengan volume penjualan sekitar 15 ribu bal per bulan. Reza juga memiliki perusahaan yang bergerak dalam bidang penyaluran tenaga kerja ke luar negeri. “Tapi, yang paling saya nikmati, ya, bisnis roti ini,” katanya.

Menurut Reza, usaha roti bisa mendatangkan kepuasan tersendiri, terutama karena bisa memberikan manfaat pada banyak orang. Karena itu, selama menjalankan usahanya, Reza terus memendam sebuah obsesi besar: mendirikan baking school di daerah Jakarta Timur. “Dengan merangkul teman-teman sesama pengusaha roti, mudah-mudahan pada 2003 nanti rencana itu bisa terwujud,” tekadnya.

Reza yakin, keberadaan baking school akan sangat membantu calon-calon pengusaha makanan berbasis tepung, atau pengusaha yang mau mengembangkan usahanya. Pasalnya dia sendiri merasa, perkembangan usahanya sangat ditopang oleh peningkatan keterampilan dan pengetahuan di bidang pembuatan roti. Ddy

KUNCI SUKSES:

  • Serius mempelajari teknik pembuatan roti yang baik.
  • Melakukan observasi secara periodik, untuk mengikuti perubahan selera konsumen.
  • Membidik konsumen kalangan atas dan bawah, dengan menggunakan berbagai sarana penjualan yang sesuai.
  • Menikmati usaha yang dijalaninya.

KONTAK REZA MALIK:

Jl. Gempol NO.25 Bambu Apus
Cilangkap – Jakarta Timur
Telp: (021) 8444404

Sumber: Wacana Mitra Boga Sari

H. Endang; Pengusaha Kue Kering Tahan Banting

Sudah 18 tahun H. Endang menggeluti usaha kue kering dengan jatuh bangun. Dengan pengalamannya selama itu, dia tak gentar menghadapi persaingan yang terasa kian keras.

Awalnya, H. Endang termasuk pedagang serabutan. Dia jualan apa saja, yang dianggapnya menguntungkan. Sekali waktu jualan ikan, lain waktu ganti kerupuk, dan sebagainya. Cara berdagang seperti itu, boleh jadi menguntungkan. Tapi, sifatnya tidak pasti. Bahkan hampir mustahil dikembangkan.

Suatu ketika, sang isteri iseng membuat kue nastar dan membawanya ke pasar. “Sedikit, cuma menghabiskan setengah kilo tepung terigu,” kenang Endang. Tapi, ternyata, nastar itu langsung habis terjual. Hari berikutnya, habis lagi, walaupun jumlahnya ditambah.

Lantas, otak bisnis Endang pun berputar, dan memutuskan untuk berkonsentrasi menggarap usaha kue kering, yang dimulai dengan nastar itu. “Saya begitu yakin, usaha ini menjanjikan,” tandasnya, “Karena itu, kami bertekad menggarapnya dengan serius. Tidak akan ada lagi istilah gonta-ganti dagangan.”

Menggunakan sepeda motor, Endang pun bergerak menawarkan kue yang dibuat bersama istrinya, ke toko-toko. Tidak seperti ketika menjual dalam jumlah sedikit yang selalu langsung habis, kali ini Endang harus bekerja keras agar kuenya diterima oleh toko dan agen.

Lima tahun lamanya, Endang berjibaku memasarkan kuenya, dengan hasil yang masih jauh dari harapan. Titik terang mulai terlihat, ketika dia menembus agen besar yang mempunyai jaringan pemasaran luas, hingga ke berbagai supermarket di Depok, Jawa barat, seperti Ramayana, Goro, Hero serta Gelael. Bahkan, juga melalui agen, kue kering Endang yang diberi merek “Selera” itu, sampai ke daerah Bekasi, Tangerang dan Bogor.

Dari hasil penjualan, H. Endang menyisihkan untuk menambah aset perusahaan. Rumah di Depok yang dulunya kontrak, kini milik sendiri dan cukup luas untuk produksi. Peralatan ditambah. Sebuah kendaraan roda empat, dibeli untuk memperlancar kegiatan operasional.

Dalam soal keuangan, Endang berpinsip, “Kalau semua bahan baku sudah terbeli, di tangan masih ada uang, barulah saya belanjakan untuk menambah aset. Dengan demikian saya selalu terbebas dari utang,” papar lelaki asal Garut, Jawa Barat ini.

Sedangkan untuk menjaga mutu kuenya, dia sangat menghindari bahan pengawet. “Saya juga melakukan kontrol langsung ke toko dan supermarket tempat kue dijajakan,” ujarnya. Meskipun kuenya kuat sampai dua bulan, jika seminggu ada yang belum laku, Endang langsung menariknya. Dengan kontrol ketat itu, Endang bisa memastikan bahwa produk yang dijual ke konsumen, masih dalam keadaan baik. Untunglah, jumlah produk yang ditarik, rata-rata hanya sekitar 10 persen.

Setiap menjelang lebaran, merupakan masa panen besar bagi Endang. Sehari, produksinya bisa menghabiskan 100 sak tepung terigu. Harga jual lima jenis kue keringnya Rp 3.750 per bungkus, atau Rp 11 ribu per stoples.

Ketika badai krismon datang, usaha Endang terguncang. Produksinya merosot tajam, hingga pernah hanya menghabiskan satu sak tepung terigu sehari. Terlebih, belakangan ini, muncul kecenderungan supermarket membuat kue sendiri, dan hanya sedikit saja menerima kue dari luar.

Sebagai langkah alternatif, sekarang ini H. Endang banyak mengarahkan pemasarannya ke daerah lain, terutama di pinggiran Jakarta. “Di sana, kue kami kembali menemukan pasar yang baik,” ujar Endang, lega, “Sekarang, seluruh pemasaran, saya konsentrasikan ke daerah pinggiran itu.”

Kalau dihitung-hitung, 18 tahun sudah Endang menggeluti usaha kue kering. Selama itu pula, dia bergulat dengan berbagai tantangan. Pantas saja, kalau dia menjadi tahan banting.

KUNCI SUKSES:

  • Memutuskan total menggarap kue kering, ketika melihat prospeknya yang bagus.
  • Ulet dalam melakukan pemasaran.
  • Menjaga kualitas, dengan melakukan kontrol langsung secara ketat.
  • Segera mencari pasar baru, ketika pasar lama mulai tertutup.

KONTAK H. ENDANG:

Jl. Setu Baru RT 04/01 No.25
Sidomukti, Sukmajaya, Depok 16415
Telp: (021) 7717436

Sumber: Wacana Mitra Boga Sari

H. Suganda; Sukses Mengeruk Untung Kerupuk

Hampir 20 tahun lamanya menekuni bisnis kerupuk. Selama itu pula, pengusaha yang satu ini berhasil menghimpun laba dan membesarkan usahanya.

Kerupuk memang makanan yang berbobot enteng. Tapi, potensi usahanya jangan dianggap enteng. H. Suganda sudah membuktikannya. Bisnis kerupuk yang ditekuninya dari nol sejak 1982, menghantarkannya sebagai pengusaha yang sukses merajai pasar kerupuk di Jakarta.

Faktanya, di seantero Jakarta, kerupuk buatan Suganda yang diberi merek SHD pada kalengnya, sudah sangat terkenal. Bahkan, saking terkenalnya, kemudian banyak pengusaha kerupuk lain yang ikut-ikutan mencantumkan merek “SHD” pada kaleng kerupuknya. Mungkin ingin mencantol sukses kerupuk Suganda di pasar. Tapi, bagi Suganda, penjiplakan merek itu bukan merupakan persoalan serius. Sebab, pemasaran kerupuknya toh tetap berjalan lancar.

Suganda mengawali usaha kerupuknya dengan modal pas-pasan plus peralatan sederhana pemberian orang tuanya. Untuk tempat produksi yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal, diperoleh dengan cara mengontrak.

Produksi awal, menghabiskan setengah kuintal tepung tapioka, yang dicampur sedikit dengan terigu. Penjualannya, yang disebar melalui para pedagang, ternyata berjalan lancar. Setiap keuntungan yang diperoleh, dikumpulkan. Dari situ, Suganda membeli berbagai barang seperti peralatan pabrik, sampai tanah dan bangunan.

Suganda berprinsip, daripada menabung lebih baik diwujudkan dalam bentuk barang. Karena itulah, kemudian dia bisa memiliki rumah dan sebuah pabrik kerupuk dengan peralatan lengkap, serta tempat pengeringan yang cukup luas, di Jakarta.

Sekarang ini, kerupuk SHD disebar oleh sekitar 40 pedagang ke wilayah Pasar Minggu, Mampang, bahkan sampai ke daerah Kota. Tak heran jika krupuk SHD dijumpai di mana-mana. Produksinya rata-rata menghabiskan 4 kuintal tepung per hari.

Satu kuintal tepung, menghasilkan sekitar 7.000 biji krupuk. Bahan baku krupuk putih, adalah tepung tapioka murni. Untuk membuat krupuk coklat/opak, setiap 50 kg tepung tapioka ditambah 7 kg tepung terigu.

Dalam mengoperasikan kegiatan produksinya, Suganda memperkerjakan 20 karyawan, yang ditampung di sebuah bangunan samping rumahnya. Namun, sampai sekarang, Suganda masih mengontrol secara ketat bumbu adonan, sehingga kualitas rasa kerupuknya selalu terjaga.

Untuk pemasaran kerupuknya, Suganda menyediakan gerobak dan kaleng, yang bisa digunakan oleh pedagang. Jadi, para pedagang yang mau menjual, tinggal mengambil kerupuk mentah dan minyak, lalu menggoreng sendiri. Seorang pedagang, rata-rata membawa sekitar 100 kaleng krupuk, untuk dititipkan di warung-warung. Kepada pedagang, Suganda menjual kerupuknya Rp 150. Sedangkan para pedagang, bebas menetapkan harga jualnya ke warung atau toko-toko.

Meskipun sudah bisa melenggang sendiri sebagai pengusaha kerupuk yang sukses, namun Suganda tetap peduli pada sesama pengusaha kerupuk di Jakarta. Kebetulan mereka kebanyakan dari Ciamis, Jawa Barat, daerah asal Suganda. Salah satu bentuk kepedulian itu, diwujudkan dengan inisiatif Suganda untuk membentuk paguyuban pengrajin krupuk wilayah Jakarta Selatan, sekaligus memimpinnya sebagai ketua.

Salah satu upaya yang sekarang tengah dilakukan paguyuban, adalah menyeragamkan harga. “Jangan sampai terjadi persaingan tak sehat, dengan cara saling banting harga,” kata Suganda.
KUNCI SUKSES H. SUGANDA:

  • Tekun menjalankan usaha dari nol.
  • Sejak awal sudah mencantumkan merk.
  • Memanfaatkan keuntungan untuk pembelian asset berharga.
  • Mengontrol mutu produksi secara langsung.


KONTAK H. SUGANDA:

Jl.Batumerah I RT/RW:04/02 No.11
Kalibata, Jakarta Selatan
Fax. (021) 7974565

Sumber : Wacana Mitra Boga Sari

Hilman Budiyadi

General Manager dan Pendiri PT Primatama Quantumjaya

Drop out kuliah lantaran terpikat bekerja, keluar, lalu mendirikan usaha sendiri. Kini, berkat pengalaman dan ketekunannya, Asep.begitu panggilannya.telah menjadi netpreneur pada usia yang relatif muda. Pesaingnya pun kelas dunia.

Ingin Mendirikan Surabaya Camp

Sukses kadang tak selalu ditentukan dari awal. Ini pula yang dialami seorang pria drop out kuliah bernama Hilman Budiyadi, general manager dan sekaligus pendiri PT Primatama Quantumjaya, perusahaan konsultan teknologi informasi (TI). Menurut Hilman, yang akrab dipanggil Asep, setelah hampir lima tahun mengembangkan usaha, ia baru tahu bahwa Michael S. Dell, pendiri Dell Computer, ternyata juga seorang drop out. Ia pun ingin meniru jejak Dell. ‘Akan tetapi memang tidak mudah untuk bisa menjadi seperti dia,’ tuturnya.

Asep hanya setahun menjadi mahasiswa Politeknik ITB. Ia sempat bekerja di beberapa perusahaan, sebelum akhirnya mendirikan usaha sendiri. Kini kliennya adalah berbagai perusahaan kelas internasional. Bahkan kini Asep siap bertanding dengan pemain asing dalam tender berbagai proyek. Untuk menopang pekerjaannya, Asep membuka kantor di kawasan Jemur, Surabaya. Karyawannya para sarjana. Lalu untuk 2003, pada bulan Januari, Asep sudah mengantongi sejumlah proyek senilai Rp1,7 miliar. Itu terjadi sepuluh tahun kemudian, sejak ia mendirikan usaha sendiri.

Sempat Jadi Karyawan

Asep memulai usahanya dari sebuah ruang berukuran 2 x 6 meter persegi di rumah milik `mantan` pacar, yang kini menjadi istrinya, Maya Damayantie. Asep mengaku, ide bisnisnya muncul dari keinginan untuk bebas dari segala aturan yang mengikatnya jika ia bekerja di suatu perusahaan. Sebelumnya, Asep memang pernah bekerja di BCA dan sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang TI. Tuturnya, ‘Saat kuliah di ITB jurusan teknik komputer tahun 1991, saya mendengar bahwa BCA di Sidoarjo membutuhkan seorang staf EDP. Saya pun kembali ke Surabaya, melamar untuk posisi tersebut. Ternyata saya diterima. Maka, saya pun mengundurkan diri dari kuliah.’

Di bank tersebut, Asep banyak menghabiskan waktunya untuk mengikuti berbagai macam pelatihan dan pendidikan. ‘Kurang lebih sepertiga dari waktu saya selama bekerja di BCA Sidoarjo dihabiskan untuk training,’ ujarnya. Pada tahun kedua Asep bekerja, terjadi rotasi karyawan yang membuatnya gerah. Maka, Asep pun memutuskan untuk keluar dari BCA.

Hanya sebulan Asep menganggur. Melalui informasi dari temannya semasa kuliah, Asep mendengar ada perusahaan asal Jepang yang membutuhkan programer. Perusahaan yang bernama PT Indonusa sedang membuka cabang baru di Surabaya. Asep melamar, dan diterima.

Di perusahaan itu kinerja Asep terbilang bagus. Maka tak heran kalau Asep bisa menjadi orang nomor dua di perusahaan tersebut, setelah atasannya, Yoshio Ito. Sayangnya, Indonusa melihat bahwa secara bisnis pasar di Jawa Timur tidak memadai. Maka, satu setengah tahun kemudian, perusahaan itu menutup usahanya. Pil pahit harus ditelan Asep. Ia kembali menjadi pengangguran.

Namun, pengalaman bekerja di Indonusa membuat naluri wirausaha Asep bangkit. ‘Mulai saat itu, saya memberanikan diri tidak melamar pekerjaan baru dan akan menjalankan usaha sendiri di bidang software. Saya yakin pangsanya bisa sangat luas, walaupun kondisi pasar saat itu belum matang,’ tutur putra pertama dari enam bersaudara ini.

Bermodal Notebook

Keinginan itu ia wujudkan dengan mendirikan perusahaan PT Primatama Quantumjaya. Perusahaan itu berkantor di sebuah ruangan eks kamar pembantu di rumah calon mertuanya. Kala itu ia hanya ditemani seorang office boy. ‘Saat itu modal awal saya adalah sebuah sepeda motor, yang saya miliki selama saya bekerja di BCA dan Indonusa,’ tutur penggemar biliar ini. Oleh karena alat utama seorang programer adalah sebuah PC atau notebook, maka sepeda motor itu pun ia jual dan dibelikan sebuah Notebook 486.

Usaha gigih Asep mulai menunjukkan hasil. Perlahan-lahan satu per satu klien ia dapatkan. ‘Saya menggunakan strategi pemasaran dari mulut ke mulut,’ katanya. Asep mengaku pasar yang dibidik adalah bidang manufaktur. Ini sesuai dengan pengalamannya semasa bekerja di Indonusa. Akan tetapi, dalam perjalanannya, pasar bisnis Asep melebar hingga ke kalangan universitas, perusahaan konsultan, kantor-kantor pemerintahan, koperasi, dan berbagai bidang usaha lainnya. Asep mengkhususkan pasarnya pada customized software. Bagi Asep, pola seperti ini justru yang lebih efektif dan tepat sasaran, khususnya untuk pasar Jawa Timur yang relatif masih awam dengan dunia TI. ‘Kerja kami ibarat tukang jahit. Jadi, disesuaikan dengan permintaan klien,’ jelasnya.

Strategi pemasaran ini bukan tanpa perhitungan. Menurut dia, merujuk pada sebuah riset, hampir 75% investasi TI gagal karena semua produknya dianggap siap pakai, termasuk produk dari vendor kelas dunia sekalipun. Padahal dalam prakteknya tidak demikian. ‘Perlu persiapan yang cukup matang dari sisi internal calon pemakai,’ papar Asep.

Sekian waktu berjalan, ternyata Asep kewalahan juga melayani pasar Jawa Timur. Penyebabnya, tak banyak perusahaan yang seperti dia. Menurut Asep, di pasar Jawa Timur, tingkat persaingan untuk ready-made software sebenarnya sudah mulai ramai. Namun, kebanyakan dari mereka bisa dibilang underground, yakni dikerjakan oleh kalangan mahasiswa, pebisnis yang free lance, atau lembaga yang susah untuk dideteksi. Situasi semacam itu menyebabkan Asep merasa cukup berjaya. Asep mengaku, untuk pasar Jawa Timur, kini perusahaannya tidak bisa dipandang sebelah mata.

Setelah merasa cukup matang, pada 2000, Asep merasa sudah saatnya merambah ke luar Jawa Timur. Gayung pun bersambut. Sejumlah perusahaan ternyata berminat terhadap solusi yang ia tawarkan. Padahal, di luar Jawa Timur, Asep harus bersaing dengan pemain asing yang reputasinya cukup dikenal.

Berkompetisi dengan Asing

Salah satu pengalaman yang cukup membuat Asep percaya diri adalah ketika mendapatkan klien PT Kelian Equatorial Mining (KEM), di Kalimantan Timur. Di perusahaan yang termasuk Grup Rio Tinto ini, Asep berhasil menggeser peran konsultan asing dari Australia. ‘Sebelumnya pembuatan software yang sifatnya taylor-made itu selalu diberikan kepada perusahaan atau perorangan di Australia dan AS, dengan tarif jasa per orang per hari bisa US$1.000. Bahkan untuk konsultan dari AS bisa mencapai US$2.000,’ tutur Adhi Prasiddha Yoedo, salah seorang staf Asep yang memimpin proyek di KEM tersebut.

Saat pertama kali masuk ke KEM, menurut Adhi, memang tidak mudah. Sebagai uji coba, Asep dan timnya diberi pekerjaan yang cukup sulit. Papar Asep, ‘Kami diminta membongkar sebuah software pertambangan, Modular Mining System buatan perusahaan software dari Arizona, AS, yang berfungsi untuk melakukan tracking via GPS. Melalui software ini bisa dilacak berapa kendaraan berat yang ada di tambang terbuka, berapa ton batuan yang diangkut, berapa sisa oli, solar, minyak yang ada di kendaraan tersebut, dan sebagainya. Ini mirip sistem telemetri pada mobil F-1, di mana setiap detik informasi tentang keadaan mobil dikirimkan ke sebuah pusat data.’

Pihak KEM menilai Asep dan timnya lolos ujian. ‘Kualitas hasil kerja kami dianggap setara dengan konsultan asing sebelumnya, tetapi biayanya sangat murah. Tarif per orang per hari kami hanya Rp1 juta, yang jika dikurs hanya US$110-an,’ ungkap Asep. Padahal, lanjut dia, biaya ini adalah yang terbesar yang pernah diajukannya. Asep mengaku bahwa penerimaan terbesar tahun 2002 datang dari KEM.

Pengalaman dengan KEM membuat dirinya makin yakin menghadapi AFTA. Menurut Asep, sepandai-pandainya perusahaan asing yang akan masuk ke Indonesia, mereka pasti membutuhkan mitra lokal. ‘SAP, Oracle, Microsoft, Lotus, dan yang lainnya selalu membutuhkan mitra lokal untuk menangani pasarnya. Apalagi produk kami murni customized. Kami datang ke klien tidak dengan software yang sudah jadi, tetapi dengan bekal pengalaman. Jadi, kami dengarkan apa maunya klien,’ jelas pria kelahiran Garut, 32 tahun yang silam itu.

Asep bertutur, pernah ada kliennya yang menggunakan empat modul perangkat lunak buatan asing seharga Rp20 miliar. Namun, selama dua tahun mencoba, hasilnya ternyata tidak maksimal. Lantaran kecewa dengan produk asing tersebut, mereka pun memutuskan untuk mencoba produk buatan Asep yang harganya cuma Rp60 juta. Ternyata ini malah berhasil.

Pengalaman tersebut membuat Asep makin yakin bahwa dirinya siap bersaing dengan berbagai pihak, termasuk pemain asing. Asep pun cukup puas dengan kinerjanya selama ini. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari penawaran berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta. ‘Kalau dulu kami yang menjemput bola, kini mereka datang ke kami,’ ujar pria yang mengaku belajar berdagang dari sang nenek ini. Nilai proyeknya kini mulai dari Rp30 juta sampai Rp250 juta, dengan lama kerja 3-12 bulan. ‘Padahal ketika pertama kali mendapat proyek, nilainya cuma Rp750.000. Itu pun dikerjakan selama tiga bulan,’ kenangnya.

Ingin Seperti Sigma

Meski drop out kuliah, Asep terus menimba ilmu melalui berbagai cara. Ia belajar dari sang istri yang bekerja sebagai konsultan psikologi dan sedang menempuh program magister di Universitas Airlangga, Surabaya. Di samping itu, Asep juga menggali ilmu dari berbagai bahan bacaan. Cara seperti ini pun ia terapkan pada 18 karyawannya. ‘Bagi saya, karyawan adalah investasi,’ tutur pria yang mengaku tak pernah memecat karyawan ini.

Lewat investasi itulah Asep yakin akan memperoleh sumber daya yang makin berkualitas dan lebih bisa bersaing di bisnis tersebut. Dalam bayangan Asep, selama 10-20 tahun ke depan, ia bakal membesarkan bisnisnya menjadi sekelas PT Sigma Cipta Caraka dengan Bali Camp-nya. ‘Saya ingin ada Surabaya Camp,’ cetusnya. Asep mengaku, ia menjadikan Toto Sugiri, pendiri Bali Camp, sebagai tokoh idola. ‘Saya senang gayanya,’ ucap dia.

Visi

Menjadi salah satu perusahaan taylormade software yang diperhitungkan secara nasional dan internasional, dengan memberikan perangkat lunak yang fit, on time and on cost, free error, dan free misperception.

Misi
Berkomitmen untuk selalu meng-update teknologi terbaru
Bersama-sama klien mewujudkan cita-citanya dengan motto: take it and profit
Akan selalu menjaga dan memelihara kompetensi di bidang software engineering serta transisi teknologi dalam jangka panjang.

Filosofi
Every body must be happy. Maksudnya, dalam proses kerja, semua pihak, baik klien ampun karyawan, harus bahagia

Tantangan
Persaingan global dalam bisnis TI seiring berlakunya AFTA 2003. Perusahaan dengan image dan modal kuat merupakan ancaman yang cukup berat.
State of the art technology. Menghadapi tuntutan pasar, maka update pengetahuan secara terus menerus adalah suatu keharusan dalam bidang yang sangat bergantung pada perkembangan teknologi yang luar biasa.
Kematangan pasar sebagai ladang bisnis yang relatif baru.
Strategi
Terus menerus meng-update pengetahuan melalui buku, internet, yang dilakukan di kantor pada waktu senggang, serta presentasi rutin yang diberikan oleh karyawan sendiri secara bergantian.
Memberikan value added adalah suatu keharusan. Dalam penawaran dan tiap presentasi, selalu mencoba menawarkan perangkat lunak yang murah (tren perangkat lunak yang open source), legal (selalu menggunakan perangkat lunak yang legal dalam men-develop dan menawarkannya kepada klien), serta andal (memberikan sistem solusi yang dapat diandalkan dalam kurun waktu yang panjang).
Inovasi berkelanjutan dalam produk, pemasaran, serta pemberian harga.

Produk
Contract Software Development. Pembuatan perangkat lunak yang disesuaikan dengan spsifikasi sistem yang dikehendaki klien.
Outsourcing Software Development. Pembuatan perangkat lunak yang dilaksanakan bersama-sama dengan klien.
Outplacement Software Development. Pembuatan perangkat lunak yang dilaksanakan oleh tim dari PT Primatama Quantumjaya dan dengan menempatkan mereka di tempat klien untuk jangka waktu tertentu.

sumber :wartaekonomi

Wayan Sandiada

S.E Di Antara Bank dan Ekonomi Kerakyatan

Kecil itu indah. Bagi Wayan Sandiada, S.E, kecil itu juga menantang. Kehidupannya sebagai ”masyarakat kecil” sejak awal penuh tantangan. Lahir dari orangtua yang notabene pengusaha kecil-kecilan (pembuat tahu-red.) dan dibesarkan bersama tujuh saudaranya, tantangan demi tantangan dirasakan Sandiada. Toh, semuanya terlewati. Pendidikan dapat diselesaikan bersama ketujuh saudaranya.Setelah menyelesaikan pendidikannya, selama bertahun-tahun pria kelahiran Sampalan Kelod, Klungkung itu akhirnya menekuni pekerjaannya di bank. Kenyang dengan pengalaman sebagai pekerja, akhirnya Sandiada tampil di puncak manajemen, sebagai Pimpinan BPR Bukit Penulisan Cabang Badung di Pasar Kerobokan, Kuta.

Ketika berbincang-bincang dengan Bisnis Bali, ayah tiga anak ini mengaku sudah cukup memiliki pengalaman bidang ekonomi melalui dunia perbankan.

Awalnya, setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Undiknas Denpasar dia bekerja di Bank Perniagaan Umum (BPU) Cabang Klungkung selama dua tahun dimulai tahun 1986 sampai dengan 1989 sebagai petugas penggalian dana.

Selanjutnya tahun 1993 dia dipindahkan ke BPU Denpasar tahun 1998 dan dalam perjalanan di dunia perbankan, BPU berubah status menjadi Bank Komersil yang bisa bertahan hanya setahun kemudian kembali berubah status menjadi Bank Nusa pada tahun 2000. Bank Nusa akhirnya merger dan Sandiada keluar dengan hormat untuk istirahat selama satu tahun sampai dengan tahun 2001.

Perjalanan hidup memang tidak bisa diterka. Mulai awal tahun 2002 Sandiada diterima bekerja di sebuah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bukit Penulisan yang beroperasi di Seririt Buleleng.

Alhasil, lanjut Sandiada, BPR Bukit Penulisan telah berhasil membuka satu cabang baru yakni BPR Bukit Penulisan Cabang Badung per 9 Desember 2002 di Kerobokan Kuta.

”Akhirnya, saya dipercayakan oleh owner BPR Bukit Penulisan Cabang Badung untuk memimpin sekaligus mengendalikan operasionalnya dalam upaya membantu pemerintah meningkatkan ekonomi kerakyatan di lingkungan wilayah Kerobokan-Canggu dan sekitarnya,” jelasnya.

Menurutnya, selama 10 tahun bekerja di dunia perbankan cukup banyak pengalaman yang dimiliki, suka dan dukanya. Sukanya, lanjut Sandiada, bisa membantu masyarakat pengusaha kecil dan masyarakat biasa dalam pemberian tambahan modal berbentuk kredit.

Sedangkan, dukanya menangani kredit bermasalah atau kredit macet yang pada akhirnya selama ini selalu bisa diselesaikan secara kekeluargaan dengan gamblang.

Dikatakan, dalam penyelesaian kredit bermasalah, seni manajemen seorang pimpinan perbankan harus dikuasai untuk mencapai hasil yang optimal saling menguntungkan terhadap penanganan kredit bermasalah.

Bisa saja diselesaikan secara hukum dengan tuntas, prosesnya cukup lama dan biayanya pun cukup tinggi atau tidak sedikit anggaran bank dikeluarkan hanya untuk menyelesaikan kredit bermasalah lewat jalur hukum.

Namun, penyelesaian kredit bermasalah secara kekeluargaan dengan seni manajemen dapat diselesaikan tuntas, biaya dan waktu yang dihabiskan relatif kecil tidak sebanding dengan biaya pennyelesaian lewat jalur hukum. ”Dan bank dengan nasabah bermasalah pun akhirnya masih menjadi hubungan baik,” tandas Sandiada.

sumber : bisnis bali

H. Ikrom Ke Amerika Bersama Tempe

Bermodal awal Rp 500 ribu, Haji Ikrom mampu memasarkan keripik tempenya hingga ke Amerika Serikat. Kini, omzetnya Rp 4 juta per hari.

Lutfi Yusniar dan Winuranto Adhi (Malang)

”KALAU Anda ke Malang, jangan lupa beli keripik tempe.” Pesan singkat dari mulut ke mulut itulah yang membuat Haji Ikrom tak menyangka kalau keripik tempe Abadi-nya bisa melanglang buana hingga ke Amerika Serikat. Ia pun semakin percaya diri untuk terus mengembangkan bisnis yang telah dirintis bersama istrinya sejak tahun 1970.

Cerita soal keripik tempe sampai ke Negeri Abang Sam itu berawal dari surat PT Fajar Jaya di Jakarta yang ditujukan kepada Ikrom pada 1997 lalu. Dalam suratnya, pimpinan Fajar Jaya melampirkan surat dari koleganya di Amerika yang ingin mencari info tentang keripik tempe Abadi. Si kolega ini mengaku kesengsem dengan produk Ikrom ketika ia berkunjung ke Malang beberapa ta-hun sebelumnya.
Kemudian, pihak Fajar Jaya menemui Ikrom dan memintanya untuk mengekspor keripik tempe ke Amerika. Awalnya, pengiriman produk hanya berkisar 50 kilogram saja. Namun, lama-kelamaan permintaan meningkat hingga 150 kilogram tiap kali kirim. Dus, hingga kini, urusan ekspor sepenuhnya ditangani Fajar Jaya. Permintaan pengiriman minimal dua bulan sekali. Nilainya sudah mencapai ratusan juta rupiah.
Kisah sukses lain dari Ikrom adalah tatkala pro-duknya masuk dalam buku panduan hotel-hotel papan atas di Kota Malang sebagai camilan berkelas. Tak jarang pihak hotel membawa tamu-tamunya berkunjung ke outlet Abadi di kawasan Ciliwung karena ingin membeli keripik tempe sebagai oleh-oleh. ”Tak hanya wisatawan domestik, tapi juga dari mancanegara,” ujar kakek delapan cucu yang kini berusia sekitar 80 tahun ini.

PENSIUNAN TENTARA
Prestasi itulah yang menjadikan namanya terkenal dan masuk dalam deretan pengusaha terkemuka di Malang. Namun, tetap saja ada kisah sedih, tatkala ia ditipu salah satu agen di Jakarta pada 1985. Kerugiannya sekitar Rp 100 juta rupiah. Toh, semua itu dilakoni Ikrom dengan tabah, dianggap sebagai salah satu ujian.

Yang pasti, hanya sedikit yang tahu kalau ia pensiunan tentara berpangkat terakhir peltu (pembantu letnan satu) dari kesatuan Korem 083 Baladhika Jaya Malang. Empat tahun menjelang pensiun, ia sudah ancang-ancang, mencari usaha yang bisa menghidupi istri dan keempat anaknya selain dari uang pensiunan. Karena di lingkungannya banyak produsen tempe, akhirnya ia mencoba membuat keripik tempe.

Ikrom bersama istrinya (almarhumah) Sumiatun bahu-membahu mengembangkan usaha dengan modal awal Rp 500 ribu. Merek Abadi merupakan ide ayah mertuanya, S.M. Tohir, bekas agen koran Abadi yang dibredel pemerintah. Produksi pertamanya sekitar 5 kilogram. Itu pun yang 1 kilogram dibagi-bagikan ke tetangganya, untuk mencari tahu tingkat kelezatan keripik tempe buatan sang istri.

Setelah rasanya dinyatakan yahud, layak jual, Ikrom mulai berani memasarkan produknya. Selepas zuhur, dengan diantar becak, ia menuju ke pasar, toko-toko, dan rumah-rumah makan untuk menitipkan keripik. Menjelang magrib baru ia pulang ke rumah. Lalu, setiap hari Minggu, Ikrom memasarkan keripik ke Surabaya. Itu dilakukan terus-menerus hingga pasarnya berkembang sampai ke Jakarta dan Bali.

PER HARI 6 KUINTAL
Sebagai manusia, Ikrom tetap saja tidak puas dengan hasil yang diperoleh. Ia terus berkreasi sehingga terciptalah produk selain keripik tempe: mulai dari keripik nangka, bayam, apel, salak, belut, hingga bekicot. Kini, produknya itu tertata rapi di etalase outlet-nya. Harga yang dipatok pun tergolong murah, dari Rp 4.000 untuk keripik bayam hingga Rp 10.500 untuk keripik tempe spesial berukuran 500 gram.

Meski demikian, kata pengurus takmir masjid di kampungnya itu, keripik dari aneka macam bahan tersebut hanyalah variasi saja. Produk utamanya tetap keripik tempe yang rata-rata volume produksinya mencapai 6 kuintal per hari. Sedangkan omzetnya mencapai Rp 3-4 juta per hari. Omzet ini akan naik pesat pada hari raya dan musim liburan. Seperti Lebaran tahun kemarin, ruas jalan di depan outlet Ikrom macet total dipenuhi mobil-mobil para pemudik yang hendak menyerbu keripik Abadi. Luar biasa bukan?

Kini, outlet Haji Ikrom kelihatan bersih dan rapi. Ruangan yang menebar aroma wangi itu berlantai putih mengilat. Di etalase, berjajar rapi berbagai jenis keripik. Karyawannya pun membengkak menjadi 17 orang, 8 orang bagian penggorengan, 3 orang bagian pembungkusan, 4 orang bagian pengirisan, dan 2 orang bertindak sebagai tenaga pengantar atau pemasaran. Bukan itu saja. Bahan baku yang berupa tempe mentah itu telah diproduksi sendiri di salah satu rumah Haji Ikrom di Jalan Batu Bara 87, Malang.

Dan, yang membuat mantan tentara ini bangga, peralatan pembuat tempe keripik di perusahaan Abadi ini tidaklah tradisional lagi. Bila dulu tempe diiris secara manual, kini dengan mesin otomatis. Dulu mereka menggoreng dengan bantuan kompor minyak tanah, kini dengan kompor gas. Dalam pembuatan tempe, sekarang ada mesin khusus untuk mengupas kulit kedelai, tak lagi dengan cara diinjak-injak.

Begitu pun untuk menutup plastik kemasan, tidak menggunakan lilin lagi, tapi dengan alat pres tersendiri. Karena itu, kemasannya lebih rapi. Tak heran jika banyak pejabat Kota Malang menjadi pelanggan tetapnya. Sekarang, Haji Ikrom tinggal menuai buah kerja kerasnya merintis usaha keripik tempe yang kini dikelola keempat anaknya.

sumber : majalah trust

Jatuh Bangun Raja Bisnis Taman Bermain

Rahmat Sutiono memang ‘’keras kepala’’. Walaupun pundi-pundi uang telah berhasil dia kumpulkan dari perusahaan distribusi oli miliknya, tak lantas menghapuskan obsesinya menjalankan bisnis taman bermain. Bahkan, sebagian keuntungan sebagai pengusaha penyalur minyak pelumas itu, ia benamkan untuk membangun areal taman hiburan.

‘’Saya memang terobsesi membangun taman bermain,’’ akunya. Entah apa yang menjadi latar belakang hasratnya menekuni bisnis taman bermain, Yang jelas, kini taman bermainnya tak kalah derasnya mengalirkan uang dibanding usahanya sebagai distributor oli yang telah lebih dulu dijalaninya.

Namun, semuanya tak digapai dengan mudah. Rahmat merasakan betul jatuh bangun membangun taman bermain. Awalnya, memang langsung menjanjikan. Bisnis taman bermain yang ia dirikan pada awal tahun 1980-an dibangun di Supermarket King’s, Jakarta, di bawah bendera PT Eselsindo. ‘’Modalnya cukup besar,’’ ujarnya. Walupun enggan menyebutkan angka pastinya, belasan juta rupiah harus ia keluarkan untuk mendatangkan peralatan impor yang semuanya dijalankan oleh mesin.

Ibarat mimpi, taman hiburan milik Rahmat yang praktis hanya memiliki pesaing taman hiburan kelas pasar malam ini, langsung melesat pertumbuhannya. Hanya dalam tempo kurang dari lima tahun saja, ia berhasil membangun 20 cabang taman bermain di beberap mal.’’Saya yang pertama kali mempopulerkan mainan dengan sistem koin,’’ akunya dengan bangga. Ia memang membangun areal hiburan dengan peralatan bermain yang dijalankan dengan sistem koin. Usaha bisnis taman bermainnya tambah menggurita, tak lepas dari kerjasamanya dengan toko swalayan Golden Truly. Di toko swalayan milik Sudwikatmono itulah, taman bermain miliknya laris dikunjungi keluarga.

Walaupun telah laris, segmen masyarakat bawah pun ia garap. Saban minggu ia mendapatkan order untuk ‘’manggung’’ di pasar malam.’’Untuk tambahan menutup modal,’’ jelasnya. Karena pesaingnya hanya mainan yang digerakkan dengan tangan, maka mesin bermainnya selalu diperebutkan pengunjung.

Rakmat mengira semuanya akan berjalan mulus. Sampai datanglah waktu yang naas buat dirinya. Grup Jaya membangun pusat taman bermain terbesar yakni Dunia Fantasi (Dufan). Pengunjung dari kelas menengah atas tersedot mengunjungi taman bermain milik Ciputra ini.’’ Saya bangkrut,’’ tuturnya. Obsesinya untuk membangun pusat taman bermain terbesar, lanjutnya, malah telah didahului dengan kehadiran Dufan.

Namun, sifat ‘’keras kepala’’ Rahmat jugalah yang membuat ia tetap keukeuh menjalankan bisnis taman bermain, dan memulainya sekitar tahun 1996. Lagi-lagi Ia kembali jatuh, ketika huru-hara melanda Jakarta pada tahun 1998. Peralatan sarana bermain miliknya ikut hancur dijarah massa. Ia pun harus rela kehilangan mitra kerja yang menarik diri dari bisnis taman bermain.

Tak kapok, ia pun mencoba lagi. Pada tahun 1999, dengan modal dari bisnis oli dan pembayaran klaim asuransi, Rahmat kembali membangun usahanya dari awal. Dengan bendera Funworld Prima, ia menjadi pemilik satu-satunya sarana bermain yang tetap mengandalkan mesin bermain dari koin. ”Kami mendapat kesempatan buka di Mal Metropolitan, Bekasi,” ujar Rahmat.
Areal bermain yang menghabiskan dana satu miliar rupiah lebih itu merupakan sebuah arena bermain seluas 4.000 m2. Kali ini ia menuai sukses. Arena bermain ini setiap bulan dikunjungi tak kurang dari 15.000 orang dan meraih pemasukan ratusan juta rupiah setiap bulannya. Sukses di Mal Metropolitan, order membuat arena bermain pun berdatangan. Kini, Funworld menguasai hampir semua arena bermain di mal-mal besar di Jakarta dan Bandung. Sebut saja Mal Pondok Indah, Plaza Atrium, Cempaka Mas, King Shopping Centre, Mal Taman Anggrek, sampai Bandung Supermal yang disebut-sebut sebagai pusat belanja termewah di Asia. Arena bermain yang didirikan Rahmat tak pernah sepi dari pengunjung. ”Pengunjung lumayan ramai. Apalagi kalau hari libur, bisa naik sampai 150%,” katanya.

Tak hanya di mal-mal, Rahmat juga menjalin kerja sama dengan sejumlah pengembang besar macam Duta Pertiwi serta Pujiadi Prestige untuk membuka arena bermain di perumahan-perumahan mewah yang mereka bangun. Di antaranya Kota Wisata dan Kota Bunga. Bahkan, tahun lalu Funworld mengembangkan sayapnya ke kota Balikpapan. ”Dengan Sinar Mas, kami menggarap amusement park outdoor seluas dua hektare,” ujar Rahmat.

Dengan memperkerjakan lebih dari 200 orang, arena bermain yang digeluti Rahmat boleh dibilang sukses. Ia layak dinobatkan sebagai Raja Taman Bermain.

sumber : kadin

Mulyono Pengusaha Batu
Sukses Berkat Uluran Tangan si Bule

Mungkin tak terbayang sedikitpun di benak Mulyono (46), hidupnya bisa sesukses sekarang. Selain mempunyai beberapa truk, juga memiliki 21 unit mesin pemotong batu serta mempunyai 84 karyawan. Semua ini berkat usahanya sebagai eksportir batu yang dirintis sendiri. Batu buatannya menembus pasar Amerika dan negara-negara di Eropa
“Saya tak membayangkan seperti sekarang ini. Saya ini hanya lulusan SD karena bapak tak punya biaya untuk menyekolahkan saya. Bapak hanya bilang, yang penting saya bisa baca tulis,” tuturnya mengenang.
Jelas, Mulyono kecil terlihat merana ketika ayahnya memberitahu dirinya tak perlu sekolah lagi. Yang dilakukan hanyalah main dan bermain dengan anak-anak sedesanya di lingkungan Sambirejo, Prambanan, Sleman, kawasan yang tandus. Namun, justru dari bermain inilah Mulyono belajar dari lingkungan.
Ia melihat banyak warga desa yang rame-rame membuat patung atau meja dari batu untuk dijual. Di sinilah pikirannya terbesit untuk belajar membuat patung atau barang apapun yang terbuat dari batu untuk dijual. Mulailah Mulyono bergabung dengan salah satu pengrajin sebagai buruh.
Di situ, Mulyono tak hanya sebagai buruh saja yang hanya mengangkat batu, tapi juga mempelajari bagaimana memilih batu yang layak diolah hingga memotong batu sesuai sifat dan kontur batu, serta bagaimana memasarkannya. Kegiatan ini dijalani selama lima tahun.
Merasa sudah cukup pengalaman, Mulyono memutuskan untuk berusaha sendiri. ”Saya ingin bisa usaha sendiri untuk memperbaiki nasib,” ujarnya pendek.
Pada tahun 1976 itulah di saat usianya menginjak 17 tahun, Mulyono merintis usaha yang bergerak di bidang batu dengan mendirikan UD Batu Mukti.
Awalnya, dirinya hanya sebagai penyedia bahan saja. Dengan modal seadanya, ia mencari dan membeli batu-batu kapur yang berwarna putih, kuning dan oranye itu yang banyak tersedia di daerahnya. Batu-batu itu dipotong-potong secara manual yang lantas dijual ke pengrajin ukir batu.
“Saya potong sendiri batu-batu itu dengan kampak atau gergaji, saya kerjakan hingga larut malam,” katanya. Meski hanya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, usaha Mulyono dalam bidang perbatuan tetap berjalan sampai akhirnya munculnya seorang bule dari Amerika. Orang asing yang dia lupa namanya itu datang dan langsung memesan kepingan batu dengan jumlah banyak.
“Saya sampai geleng-geleng kepala mendengar begitu banyak pesanan. Saya katakan, mungkin saya tak bisa memenuhi pesanannya yang begitu banyak itu, karena tenaga kerja saya sedikit dan dikerjakan secara manual,” cerita Mulyono.
Mendengar jawabannya itu, orang Amerika ini lantas memberi uang pada dirinya sejumlah Rp 5,5 juta untuk membeli 1 unit mesin pemotong batu.
Tentu saja Mulyono terperangah, karena uang sebesar itu nilainya besar sekali pada tahun 1992. Dengan uang ini, dia membeli 1 unit pemotong batu dan mulai mengerjakan pesanannya itu.

Maju Pesat
Sejak saat itulah usahanya maju pesat, menyusul banyaknya pesanan yang datang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ia pun mesti harus mencari tambahaan bahan baku batu ke daerah lain seperti di Gunung Kidul ataupun Magelang, karena batu dari sekitar Sleman tak bisa memenuhi kebutuhan.
Tak hanya itu, ia juga merekrut tenaga kerja dan membeli beberapa unit mesin potong batu serta truk.
Kini Mulyono memiliki 21 unit mesin pemotong batu, dua unit truk, dan mempekerjakan 84 orang. Para karyawan ini dibayar antara Rp. 17,5 ribu hingga Rp. 25 ribu/hari.
“Yang jelas mereka menerima upah di atas UMR yang ditetapkan pemerintah provinsi DIY yang hanya Rp. 430 ribu/bulan,” katanya bangga. Produksi UD Batu Mukti ini di antaranya meliputi tegel yang dipakai untuk dekorasi rumah maupun untuk dasar kolam renang itu banyak disukai konsumen di luar negeri.
Produknya itu kini juga dipasarkan ke Amerika Serikat, Jerman, Malaysia, Singapura, Spanyol dan Prancis, “ Orang-orang dari Eropa lebih suka model yang natural atau atasnya dibuat kasar. Sedangkan orang Asia suka yang ditatah halus seperti marmer,” kata Mulyono.
Berkat kegigihan Mulyono yang notabene lulusan SD ini, perusahaannya bisa memproduksi sekitar 1.000 meter persegi perbulannya. Setiap 30 meter persegi, rata-rata ia jual dengan harga Rp 2 jute, jika dirata-rata kini mempunyai penghasilan sebesar Rp. 20 juta perbulan.

Sinar Harapan 2003

Alat Pijat Buatan Eko Suparno
Diminati Banyak Negara

Pepatah lama di mana ada kemauan di situ ada jalan, barang kali cocok buat menggambarkan perjalanan hidup Eno Suparno, seorang perajin alat pijat kesehatan yang kini terbilang sukses. Eno menyulap limbah kayu menjadi barang yang bernilai dan berharga.
“Banyak orang menilai limbah kayu tak bisa dimanfaatkan dan hanya untuk kayu bakar.Tapi, bagi saya setiap potongan kecil kayu sangat bernilai dan bisa menghasilkan uang,” kata Pak Eno, begitu ia kerap disapa, ketika SH mengunjungi tempat tinggal yang sekaligus digunakan sebagai gudang penyimpan hasil produksi di Kompleks Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, baru–baru ini.
Pada tahun 1968, Eko berangkat dari kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat dengan tujuaningin merubah nasib hidup di Jakarta. Ketika itu, di benak Eko tidak pernah terbersit ingin menjadi seorang perajin alat pijat refleksi dengan bahan limbah kayu. Ia mengaku sebelum menjadi perajin, ia sempat kerja serabutan. Ia pernah menjadi sales obat–obatan.
Eko bercerita, ketika sedang berada di gudang milik majikannya, pada tahun 1981, ia mengambil potongan gagang pengepel lantai yang terbuat dari kayu. Lalu, dengan pisau cutter kayu tersebut dipotong dan dihaluskan ujungnya untuk alat pijat. Hasil karya yang tidak sengaja ini diminati teman–temannya.
Mengetahui ternyata dapat menghasilkan uang, gagang kayu pengepel itu kemudian dipotong kecil-kecil menjadi beberapa potong dan diubahnya menjadi alat pijat sederhana. “Waktu itu harganya saya jual Rp 3.000 satu biji,” kenang Eno.
Menyadari keterbatasan yang dimilikinya—hanya mengandalkan gergaji dan pisau cutter—dalam mengolah potongan-potongan kayu yang dikumpulkannya dari geletakan di pinggir jalan atau sisa-sisa pekerjaan di pabrik meubel, memaksanya untuk memiliki mesin yang dapat mempermudah pekerjaan. Persoalannya uang untuk membeli mesin tidak ada.
Ide muncul, Eko menyulap sebuah mesin jahit menjadi mesin bubut sederhana yang mengandalkan dinamo sebagai sumber tenaganya. Dari mesin itu pula berbagai bentuk alat bantu pijat yang terbuat dari kayu kemudian tercipta.
Tahun demi tahun usahanya terus menunjukkan peningkatan. Pada tahun 1995, alat pijat buatannya sudah diminati pembeli dari luar negeri seperti Singapura, Brunei, Cina, meskipun sebenarnya ia menyebut dirinya bukan pengekspor.

Menuai Hasil
Sekarang, setelah 14 tahun berlalu, Eno benar-benar telah menuai hasil dari kerja keras, kesabaran dan keuletannya. “Saya sekarang main di pameran, Mas. Kalau soal pemasaran sudah tidak saya pusingkan lagi,” tuturnya bangga.
Maklum, karyanya saat ini banyak dipesan dan dipajang di pasar swalayan. Ambil contoh seperti Roxi Mas, Mangga Dua, Gramedia, Tangerang secara rutin setiap dua minggu atau sekali sebulan order pesanan baru. “Setidaknya ribuan barang setiap bulan mas dengan sekitar 50 jenis atau bentuk. Coba bayangkan dengan jumlah sebsar itu di kali harga barang setiap biji antara Rp 10.000 sampai Rp 75.000,” kata Eno.
Untuk memenuhi pesanan sebanyak dan sebesar itu tentu tidak mudah dan membutuhkan tenaga atau pekerja. Untuk mengembangkan usahanya, Eno kini dibantu oleh delapan karyawan yang direkrutnya di sekitar lingkungan tempat tinggalnya atau tetangganya. Selain itu, kwalitas dan kepuasan pembeli adalah prisnsip yang harus diutamakan. Oleh kaerna itu semua bentuk yang diciptakan harus praktis dan punya fungsi atau kegunaan. Untuk hal tersebut Eno mengaku bekerjasama dengan tukang pijat refleksi. “Kalau malam, udah keluar ide di otak, suka kepingin cepat-cepat pagi melihat bagaimana jadinya,” Eno menceritakan pengalamannya.
Kesuksesan di penjualan atau pemasaran bahkan juga diikuti dengan kesuksesan pemeran dan menjuarai perlombaan-perlombaan sejenis di lima tahun terakhir, sejak dirinya menjadi binaan PKK maupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan DKI Jakarta.
Beberapa perlombaan pameran yang pernah dimenangkannya antara lain Tahun 2003 juara II se-Jakarta Timur sebagai pengolah Limbah. Kemudian pada tahun yang sama menjadi produk unggulan perekonomian se-Jakarta Timur.
Tahun 2004 menjuarai tingkat PPK se-DKI mewakili Jakarta Timur. Bahkan pada Agustus 2003, Eno mengatakan karyanya pernah ikut ke jerman yang dibawa oleh Dinas Koperasi. Singkat kata, kejuaran dan perlombaan ini pulalah kemudian menjadikan karyanya begitu dekat di kalangan pejabat.
“Alhamdulillah di pameran INACRAFT, dalam waktu lima hari saja saya mendapatkan lebih dari Rp 30 juta, Mas,” tambah Eno.
Angka tiga puluh juta rupiah dalam lima hari tentu bukan angka kecil bagi seorang Eno. Apalagi uang sebesar itu berasal dari limbah kayu yang sebelumnya sama sekali tidak dilirik orang, namun olehnya berubah menjadi benda bermanfaat dan berharga. Bagi Eno, prinsipnya dalam mengolah kayu adalah jika kayu yang sudah samapai di rumah jangan sampai terbuang sekecil apapun karena bisa diolah menjadi uang
“Boleh percaya boleh tidak, bahan bakunya itu cuma Rp 400.000 sampai Rp 500.000 per truk kecil dan tidak habis dalam dua tahun. Dengan kayu sebesar ibu jari sudah bisa diolah menjadi uang senilai Rp 10.000. Usaha ini benar-benar sumber intan bagi saya,” tuturnya puas.

Sinar Harapan 2003

H Mustofa, Pengusaha Sukses yang Buta Huruf


Maraknya pabrik pengecoran besi baja di Jawa Timur semakin memberi peluang bagus pada para pengusaha pemasok besi tua (besi bekas). Kebutuhan pabrik terhadap besi tua semakin besar, sehingga harga penjualan besi tua semakin bersaing.
H. Mustofa, salah seorang pengusaha pemasok besi tua yang tinggal di Jl. Sidorame 30 Surabaya, mengatakan paling tidak saat ini dirinya memasok empat perusahaan pengecoran besi, yakni Hanil di Waru Sidoarjo, Ispatindo, Jatim Taman Steel, dan Maspion Grup.
“Jika harganya cocok, saya langsung pasok besi tua untuk pabrik-pabrik itu. Terserah mereka minta berapa, akan saya penuhi,” kata H. Mustofa dengan logat Madura yang sangat kental.
Untuk Pabrik Hanil saja, dirinya seminggu ditarget memasok 500 ton per minggu. “Kalau hanya minta 500 ton per minggu, mudah saya penuhi. Dua hari ini saja saya sudah memasok pabrik itu 300 ton. Jadi target 500 ton bisa saya penuh hanya dalam waktu 3 atau 4 hari saja,” kata H. Mustofa, yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Besi Tua Indonesia (Aspebi). Pasokan untuk 4 pabrik, lanjut Mustofa, bisa sampai 8.000 ton per bulan.
Guna memenuhi target dari empat pabrik yang dipasoknya, H. Mustofa mempekerjakan tidak kurang dari 700 orang. Mereka disebar di hampir seluruh pelosok Indonesia, seperti di Jember, Semarang, Bandung, Samarinda, Sampit, Palu, Balikpapan, Ujung Pandang, Papua, NTBm dan NTT. “Setiap dua hari mereka mengirim besi tua dengan kontener menuju Tanjung Perak. Dari Tanjung Perak, langsung kami kirim ke pabrik. Jadi tidak perlu masuk gudang,” tandas bapak tiga anak ini.
Dari para karyawannya, H Mustofa membeli besi tua tersebut dengan harga antara Rp 2.250 – 2.300/kg untuk jenis yang bagus. Untuk jenis di bawahnya, dibeli dengan harga Rp 2.000. harga tersebut sudah termasuk biaya transportasi sampai ke pabrik.
Penjualan di pabrik pengecoran besi, H. Mustofa “hanya” mendapatkan keuntungan Rp 25-30/kg. Kalau dalam satu bulan rata-rata bisa memasok 8000 ton, berarti keuntungan yang didapatkan tiap bulan bisa mencapai Rp 200 juta lebih.

Tukang Timbang
Keberanian H. Mustofa ini tidak terlepas dari pengalaman hidupnya yang panjang sehingga ia menjadi pengusaha besi tua yang terbilang cukup sukses. Saat remaja, dia hanyalah kuli angkat besi tua di tempat penampungan besi tua milik Padli, pamannya. Ketika pamannya mulai tua, terpaksa ia harus mandiri dengan menjadi tukang timbang besi tua yang setiap hari mangkal di Jalan Sidorame, Surabaya.
H. Mustofa ternyata tidak mau hidupnya hanya menjadi tukang timbang. Lewat keahliannya menaksir harga besi tua, ia nekat meminjam uang pada H. Kolik, pengusaha besi tua di daerah tersebut sebesar Rp 125 juta untuk membeli sebuah kapal perang bekas Pramasta pada tahun 1986. Ternyata, ia harus menanggung kerugian sebesar Rp 16 juta. Sebab ia meleset menaksir harga kapal tersebut.
Bukannya kapok, kegagalan itu justru membuat semangat H. Mustofa semakin terlecut. Ia kembali pinjam uang ke H. Kolik untuk membeli kapal tangker dari Singapura. Ternyata penaksirannya kali ini cukup jitu, sehingga ia bisa meraup keuntungan Rp 4 juta.
“Saya masih ingat saat mengawali karier sebagai pengusaha besi tua dengan membeli sebuah kapal yang karam di perairan Madura. Meski tidak tahu betul bentuk kapal yang karam itu, saya berani membelinya. Saya saat itu nekat. Jika berhasil mengangkat kapal, hasilnya sangat besar. Tetapi jika gagal, saya bisa rugi ratusan juta rupiah,” kata H. Mustofa, yang asli kelahiran Bangkalan, Madura, 30 Juni 1952 itu.
Akhirnya nasib baik berpihak kepadanya karena kapal yang karam tersebut berhasil diangkatnya. Keuntungan yang sangat besar berada di depan mata.
“Dari keuntungan penjualan besi kapal itulah membuat saya sampai saat ini menjadi pengusaha besi tua. Kalau saya hitung hingga saat ini sudah lebih dari 50 kapal yang pernah saya beli,” tambahnya.

Mencari Besi ke Irak
Sebagai orang yang memiliki naluri bisnis tinggi, H Mustofa tidak cepat puas dengan kondisi saat ini. Ia juga berpikir untuk melakukan ekstensifikasi pencarian besi tua sampai ke negeri Irak.
“Saat perang Irak dua tahun lalu, saya sempat mengirimkan tiga orang anak buah saya ke Irak. Sebab saya melihat setelah serangan Tentara AS di Irak, dimana banyak gedung rusak, banyak menara-menara yang runtuh, menjadikan saya tertarik untuk membeli besi tua dari negara Arab tersebut,” katanya.
Tetapi sayang, tambahnya, pihaknya kesulitan untuk melakukan pembelian besi tua di sana. Selain itu, perjalanan menuju laut sangat jauh, apalagi sarana dan prasarana transportasi di Irak sulit didapat. “Akhirnya saya batalkan, meskipun saat itu sudah saya siapkan dana yang cukup besar untuk membeli besi tua dari Irak,” jelasnya.
Meskipun demikian, H. Mustofa mengaku tak kecewa, karena hal itu merupakan sebuah risiko dari seorang pengusaha. “Paling tidak, saya sudah menjalin hubungan dengan orang-orang di sana, sehingga suatu saat pasti ada manfaatnya,” tandasnya.
Meski tergolong pengusaha yang cukup sukses, H. Mustofa terlihat sangat sederhana. Hampir semua urusan pekerjaan ia percayakan pada karyawannya, khususnya manajemen CV Sampurna. Sebab hingga saat ini, H. Mustofa mengaku buta huruf.
“Sejak kecil saya hidup miskin, sehingga harus bekerja membantu orang tua. Jadi, sejak kecil saya tidak pernah sekolah, tidak pernah belajar membaca atau menulis. Saya ini buta huruf,” akunya dengan lugas.
Meskipun demikian, ia berusaha agar anak-anaknya menjadi orang yang pandai dan sukses di bidang pendidikan dan bisnis. Karena itu, tiga anaknya selalu ia sekolahkan, tambahan bahasa asing dan berbagai kursus. Dalam waktu dekat, Lilik, salah seorang anaknya yang telah lulus S1 bidang hukum, akan melanjutkan pendidikan S2 bidang hukum di Belanda.
Lantas, apa kunci H. Mustofa agar bisa menjadi pengusaha besi tua yang sukses? “Pengusaha besi tua itu enak, karena sampai kapanpun besi tua selalu ada, tidak pernah mati. Meski buta huruf yang penting punya hati yang bersih, jujur, dapat dipercaya orang dan kalau perlu harus nekat dalam mengambil suatu keputusan,” kata H. Mustofa.
Sinar Harapan 2003

Comments»

1. RPM - February 18, 2008

wOW..amazing..
Salut buat Bapak/Ibu..
Tidak banyak yg bisa menggapai kesuksesan setelah mengalami jatuh bangun…
bAgi Bapak/Ibu pengusaha yg membaca pesan ini..mhn pesan untuk kami para pemula yg juga terjun ke dunia bisnis agar kelak dapat seperti Bapak/Ibu….

Salam Hangat,Sukses selaluu….

2. bayu.an - August 19, 2008

luar biasa kang…
inspiratif dan mencerahkan..

3. ikmal - October 16, 2008

wow…subhanalloh ALLOH MAHA KAYA….

semuanya rindho Nya yang Maha Kaya,…saya ingin menjadi penyalur penjual jajanan, cemilan & oleh2 di daerah jabodetabek & lampung bapak bapak pengusaha ada yang bisa bantu saya..demi cita cita saya
terima kasih

Ikmal – 08111775377
ikmal_q@yahoo.co.id
Jaksel

4. edie - November 11, 2008

saya akan berusaha menyusul sukses mereka,,,do a pembaca,,amiin

5. aji (Bangkalan) - October 21, 2009

saya sangat kagum sekali merenungi kegigihan bapak H. Mustofa yang buta huruf namun semangatnya pantang menyerah ………………………………….sukses buat bapak, kalau bapak berkenan ajari saya untuk menjadi pengusaha sukses seperti bapak…..amin